Hello world!
Sekolah Bersih Hijau dan Sehat
< ?xml:namespace prefix = st1 ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags” />
Pengelolaan air sangatlah penting untuk Penggunaan lingkungan sekitar sebagai media belajar siswa saat ini belum dimaksimalkan. Guru masih terkungkung dalam ruangan kelas, padahal banyak potensi yang ada di lingkungan sekitar yang bisa menjadi bahan ajar untuk siswa. Sumberdaya dalam komunitas lokal meliputi sumberdaya manusia (orang atau masyarakat), tempat-tempat, atau lokasi yang bisa memfasilitasi pencapaian tujuan pendidikan. Pendidikan lingkungan sendiri memberikan peluang untuk sebuah pendidikan atau pengajaran berorientasi komunitas lokal. Penggunaan sumberdaya lokal dapat mempertinggi nilai dan memperluas kurikulum sekolah. Sumberdaya komunitas lokal dapat membantu sekolah dan guru untuk mengajar lebih efektif dengan cara memberikan motivasi kepada siswa, membantu siswa mencapai tujuan pembelajarannya, dan menghubungkan langsung siswa dengan model-model peranan dan situasi “kenyataan hidup”. Dimana dibutuhkan untuk hidup bersih sehat dan nyaman.
Sekolah sebagai salah satu wadah peningkatan pengetahuan dan kemampuan anak memiliki peran penting dalam menyumbang perubahan yang terjadi di dalam keluarga. Bagaimana menghargai air bersih, memahami pentingnya penghijauan, memanfaatkan fasilitas sanitasi secara tepat serta mengelola sampah menjadi poin tidak terpisahkan dalam upaya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat. Sebagai komponen terkecil dalam masyarakat perubahan yang terjadi dalam keluarga akan memberi pengaruh pada masyarakatnya. Kesadaran masyarakat di daerah hulu sungai terhadap kebersihan, kesehatan dan penghijauan lahan akan menjadi titik awal menguntungkan dalam upaya menjaga kelestarian alam/lingkungan.
Peran serta semua pihak sangat dibutuhkan dalam rangka konservasi dan upaya menjaga kelestarian tersebut. Dibutuhkan dukungan dan kontribusi masyarakat media dalam isu Clean, Green and Hygene (CGH), serta penyebarluasan lebih meluas tentang kesehatan air, peranan masyarakat media sebagai pengawal isu pelestarian. Peran media sangatlah penting disini sebagai penyambung dan penyebarluasan informasi. Penyebaran informasi ini diharapkan dapat merubah perilaku dari peduli ke tindakan. Saat ini, masyarakat media belum banyak yang terlibat dalam penyebarluasan isu tentang CGH dan kesehatan air, dikarenakan keterbatasan akses informasi tentang isu tersebut
“Udara yang lembab, dan lingkungan kotor memudahkan berkembangnya virus, dan bakteri yang menginfeksi saluran pernafasan,” katanya kepada Waspada Online, malam ini.
Genangan air di mana-mana akibat hujan, katanya, dapat menjadi sarang nyamuk aedes aegypti yang menularkan virus DBD. “DBD merupakan salah satu penyakit yang mematikan yang penyebaran dan penularannya sangat cepat,” ujarnya.
Anak-anak, ujarnya, memang cenderung lebih mudah terserang dari pada orang dewasa, karena daya tahannya lebih kurang. Gejala-gejala demam berdarah, sebutnya, pada umumnya demam tinggi 39 derajat celsius, kejang, terdapat bintik pendarahan pada kulit serta selaput mata, sakit kepala, nyeri di ulu hati, mual, nyeri sendi dan otot, nyeri saat menelan, nyeri di seluruh perut, dan lain-lain.
“Jika terdapat gejala-gejala tersebut, segera ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan diagnosa. Dan bila terkena segera lakukan perawatan secara intensif,” himbau Suhardiono, seraya menyebutkan, beberapa diagnosa yang dapat dilakukan, yakni, pemeriksaan hemaglobin (hb), hematocrit (ht), dan thrombosit.
SOLUSI LINGKUNGAN
< ?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" />Sebagai gerakan peduli terhadap lingkungan, Unpad menawarkan solusi teknologi yang berbasis ramah lingkungan. Solusi ini dinamakan Biopori, yang diluncurkan langsung oleh Rektor Unpad Prof. Ganjar Kurnia. Hadir pula PR Bidang Kemahasiswaan Trias Nugrahadi, dr. Sp. KN, Sekretaris Senat Prof. Dr. Johan Masjhur, dr., Sp.PD-KEMD, SpKN, juga oleh beberapa Dekan Fakultas. Acara ini diselenggarakan pada hari Senin (22/12) di Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jl. Dipati Ukur , < ?xml:namespace prefix = st1 ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" />
Biopori atau yang biasa disebut dengan Teknologi Lubang Resapan Biopori merupakan metode alternatif untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah, selain dengan sumur resapan. Pemanfaatan Biopori ini akan membuat keseimbangan alam terjaga, sampah organik yang sering menimbulkan bau tak sedap dapat tertangani, disamping itu juga dapat menyimpan air untuk musim kemarau. Ide awal ini pertama kali diperkenalkan oleh Kamir Raziudin Brata, seorang peneliti dan dosen di Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB.
Selain itu kelebihan dari Biopori ini adalah memperkaya kandungan air hujan. Karena setelah diresapkan kedalam tanah lewat Biopori yang mengandung lumpur dan bakteri, air akan melarutkan dan kemudian mengandung mineral-mineral yang diperlukan oleh kehidupan. Adapun tujuan Lubang Resapan Biopori (LRB) ini adalah agar air masuk sebanyak mungkin kedalam tanah.
“Alat-alat Biopori ini juga akan disosialisasikan ke masing-masing Fakultas, sedangkan untuk jangka panjangnya kita akan mengajak IKOPIN, UNWIM dan IPDN untuk juga dapat menjaga air resapan wilayah Jatinangor melalui Biopori ini”, ucap Bambang Aris Sistanto yang juga Dosen Fakultas Teknik Industri Pertanian. Alat pelubang resapan Biopori ini langsung coba digunakan oleh Rektor Unpad dan beberapa staf Unpad lainnya, bahkan beberapa mahasiswa Unpad ikut mencoba menggunakan alat ini.
Kelebihan LRB lainnya adalah selain sederhana, alat ini sangat mudah digunakan oleh kaum perempuan. Selain itu 10 manfaat dari LRB ini antara lain adalah memelihara cacing tanah; mencegah terjadinya keamblesan (subsidence) dan keretakan tanah; menghambat intrusi air laut; mengubah sampah organik menjadi kompos; meningkatkan kesuburan tanah; menjaga keanekaragaman hayati dalam tanah; mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh adanya genangan air seperti Demam Berdarah, Malaria, Kaki Gajah, (mengurangi masalah pembuangan sampah yang mengakibatkan pencemaran udara dan perairan); mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan); serta mengurangi banjir, longsor dan kekeringan.
PROSPEK LINGKUNGAN SEKOLAHMenurut agama, kebersihan itu adalah sebagian dari iman, oleh karena itu
kebersihan sangat berarti dan sangat bermanfaat bagi semua orang terutama
kebersihan rohani dan jasmani, Karena hanya dengan kebersihan akan tercipta
suatu keindahan, baik itu keindahan lahiriah maupun batiniah.
Untuk mewujudkan sebuah sekolah impian tidak hanya membutuhkan dana dan
pengetahuan rancang bangun serta murid yang pintar tapi yang tak kalah penting
adalah kebersihan dan kreativitas murid untuk mewujudkan sebuah sekolah yang
indah dengan menggalakan kebersihan di sekolah. Mengatasi kebersihan lingkungan
sekolah sangatlah tidak sulit, jika kita mau berusaha mengatasinya
bersama-sama, hal-hal negatif yang diakibatkan oleh perilaku kita dapat
dihindari.
Sebuah sekolah akan menjadi sumber pembelajaran bagi semua murid yang ada
didalamnya, jika sekolah tersebut memiliki fasilitas yang nyaman dan bersih.
Kita sadar bahwa kita ingin memperoleh kemajuan dalam hidup, salah satu
persoalan yang sering menghambat kemajuan adalah kurangnya pendidikan,
begitupun sebuah sekolah ingin memperoleh kemajuan tapi tidak pernah
mengutamakan kebersihan di lingkungannya.
Semua guru dan murid hendaknya bersama-sama mengatasi lingkungan dan menjaga
kebersihan dengan baik demi keselamatan dan juga kesehatan kita bersama.
Sekolah yang bersih akan menimbulkan kesan baik bagi orang lain yang
melihatnya. Untuk menjadikan sekolah bersih perlu dilakukan beberapa kegiatan
seperti : membuang sampah pada tempatnya, diadakan piket setiap kelas dsb. Cara
penanggulangan sampah harus benar karena akan menimbulkan dampak yang negatif.
Dengan perilaku demikian, mudah-mudahan akan tercipta sebuah sekolah yang indah
dan bersih serta nyaman untuk belajar. Keadaan ini akan menimbulkan kesan bagi
seeorang yang berada di lingkungan tersebut

Hi, this is a comment.
To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.
Comment by A.N. Other — October 19, 2009 @ 5:01 am